Sabtu, 25 Februari 2012

Jakarta di Hari Minggu


Menyusuri kota ini di hari Minggu
Tampak tenang tak seperti di hari pekerja terburu-buru
Coba saja kalau setiap hari begitu
Pasti di jalanan mudah melaju

Mengapa kau tak mau mengantri
Lebih cepatkah kau beberapa detik dengan mencuri?
Mengapa tak memberi jalan dulu pada yang sudah sedari tadi?
Kalian membuat jalanan dan ekonomi sulit berlari

Aku menunggu kalenderku berwarna merah untuk berkendara
Kalau tak merah manalah sampai segera
Truk di tempat tikus dan kucing berlari
Sepeda motor membentuk air yang mementingkan diri sendiri

Tak perlulah kalian tambah jalanan layang
Jangan membuat kami berputar jauh di persimpangan
Polisi lebih baiklah dalam tugas yang dipegang
Kami bayar pajak dan banyak tagihan

Jakarta di hari Minggu
Kota ini baik di mataku
Kota ini di Hari Minggu
Bukan di Senin sampai Sabtu


Teddy Amry


Baca selengkapnya - Jakarta di Hari Minggu

Kamis, 23 Februari 2012

Ego

Ego

Kenapa sih lo ada?

Mengikat diri yang bebas lepas
Dengan belenggu emas dan besi

Burung mengikat diri lalu ingin terbang
Aneh
Bodoh tolol

Mengapa tak lepaskan saja talinya?
Oh ya, benang kusut!

Kita para dungu yang mengecap pengetahuan fana
Kita para orang bodoh yang belum sadar
kita para budak yang mengabdi pada mesin
Kita yang lalai mempercayakan diri kepada mesin

Pikiran
Pikiran

Ego, keinginan
Penutup kotor yang melapisi meja yang bersih
Tolol bukan?

Sudah bersinar dari sananya
Terlapis kain hitam penuh debu

Mati-matian mengejar kebahagiaan
Tanpa melihat ke dalam terus mencari di luar
Di luar sana kebahagiaan itu tidak ada
Yang ada hanya cermin

Cermin memantulkan bayangan wajah yang dekil
Bukan cerminnya yang salah
Bukan wajahnya yang tak rupawan
Hanya debu kotor selama perjalanan
Setelah lelah, bersihkanlah hingga tuntas
Lihat, kita itu rupawan!

Mati-matian mengejar kebahagian
Tanpa sadar mati-matian menyengsarakan diri

Tidak ada yang perlu diubah, ikhlas!
Tidak ada perbudakan yang merdeka
Tidak ada yang baik dirantai emas
Ketanpa-ego-an itulah yang sempurna
Baca selengkapnya - Ego

Senin, 16 Januari 2012

Acara Musik Jangan Sebodoh Sinetron


Ku tahan nafas menenangkan
Tak ada pilihan menyenangkan
Menatap TV kumpulan nyanyian
Mereka dibayar atau gratisan?

Tak bisakah lebih tolol dalam bermusik
Tak ada pilihan selain kalian
Tak bisakah lebih tolol kalian berisik
Selain acaramu yang ada hanya iklan

Cukuplah mereka yang tak berpendidikan
Menonton sinetron yang mengajarkan kebodohan

Mengapa kalian rusak musik kami
Yang dulu baik dan layak dibeli
Mengapa kalian ganti penyanyi dan band sekelas Padi
Dengan band kampung dan anak-anak baru jadi

Maunya ku punya acara lain
Masa sih harus buat TV sendiri?
Malu dong dengan bangsa lain
Masa membodohi bangsa sendiri

Tak adakah inovasi di negeri ini
Ke mana semua otak-otak kreatifnya
Jangan andalkan penjualan RBT yang tinggi
Syair-syair tolol yang merajainya

Tolong dong buat acara musik anak lagi
Jangan campur nyanyian anak-anak di musik kami
Jangan ajarkan anak syair-syair dewasa
Jangan masukkan mereka di acara musik dewasa

Tolong buat acara musik khusus orang-orang tolol
Jangan campur musik mereka di musik anak muda
Band-band plagiat jangan nongol
Bikin acara khusus jangan ada di semua acara

Kemana penyanyi anak yang suaranya merdu?
Jangan rekam suara anak-anak yang merusak telinga
Berikan mereka syair dan melodi seperti dulu
Tak usah gila paksakan mereka di acara anak muda

Jangan rusak mutu musik negeri
Kasihan pemusik sekelas Yovie
Jangan biarkan kita diinvasi
Musik luar jadi raja nanti

Baca selengkapnya - Acara Musik Jangan Sebodoh Sinetron

Rabu, 07 Desember 2011

Hembusan Nafas



Nafas naga berhembus dari diri-diri yang kesal
Mengapa tak terpikir untuk lepas setelah lama bernafas?
Tak bosankah kamu akan siksa di samsara?
Tak jenuhkah kamu selalu turut apa yang dunia perintahkan ke kamu?

Suara-suara kebodohan diri sendiri yang kamu sebut setan
Setan yang tak pernah ada di hatimu kecuali keengganan
Keengganan kamu untuk bertumbuh
Melepas ego, itulah bertumbuh

Tak kesalkah kamu akan suara-suara yang mendiktemu?
Tak maukah kamu untuk kembali kepada kebebasan?
Mengapa enggan untuk melihat ke dalam?
Bahagiakah kamu di samsara yang nyata?

Ketidaktahuan karena keengganan
Keengganan untuk berbeda dari imla dunia
Keengganan melangkah ke yang tak sementara
Keengganan mempertanyakan apa itu yang nyata

Sudah-sudahlah usailah tangismu
Sudahilah semua deritamu
Mulailah melihat cermin besar yang kau sebut dunia
Jika pantulannya buruk, siapakah yang bertanggung jawab?
Baca selengkapnya - Hembusan Nafas

Selasa, 29 November 2011

Cuma Ngetik


Pagi yang indah di hari yang tidak begitu cerah
Hujan kemarin masih membuat jalanan basah
Apa aku punya kata lain selain terserah
Melepas kebodohan supaya tidak marah

Satu hari, dulu lama sekali
Di mana ambisi menyiksa diri
Ego menjadi raja
Dan aku hanyalah hamba

Pikiran kalut cabangnya banyak
Membuat keinginan untuk keinginan
Kepala dan dadaku terbakar tersiram minyak
Tanpa upaya hanya dalam lamunan

Masalahku berkurang banyak
Cuma kamu yang paling berat
Tinggalkan pikiranku supaya aku tidur nyenyak
Ngangenin kamu buatku penat

Yang lain terserah terserahlah
Datang datanglah pergi pergilah
Jika suka lepaskanlah
Jika benci lepaskanlah

Belajar membaca setumpuk buku
Aku jauh lebih tahu dari perbuatan
Melatih diri secepat waktu
Aku berlatih melepas keinginan

Tugasku mengurangi hasrat
Banyak perhatian apalah tujuan
Sedikit pikiran adalah baik
Memenuhi nafsu tiada kekuatan

Tugasku adalah melepas
Melepas kesukaan melepas kebencian
Hidup ini supaya terlepas
Aku lelah akan ketidak tahuan

Baca selengkapnya - Cuma Ngetik

Rabu, 07 September 2011

Biarkan Saja

Jangan takut akan gempa, gempanya pasti kan ada
Jangan takut malam, esok kan ada pagi
Jangan takut akan sakit, kau kan tahu nikmatnya sehat
Jangan takut akan mati, jiwa akan selalu hidup


Jika nanti kan turun hujan, biarkanlah
Jika nanti waktu kan mengubah, biarkanlah
Jika saat belum tiba, biarkan sampai tiba
Jika tujuan belum terlihat, tetaplah berjalan

Apa guna menyembunyikan dusta, hanya menunda ketahuannya
Apa guna takut kan siksa, jika pasti, maka kan terjadi

Raihlah apa yang kau raih
Lepaskan yang bukan milikkmu

Jika kau dapat mengubahnya, ubahlah
Jika kau tak dapat berbuat apa-apa, diamlah, tenang saja

Datang dan pergi, seperti itu terjadinya
Ketakutanmu hanyalah tipuan
Tipuan tak mampu memanipulasi yang hakiki

Tak usah cemaskan apa yang belum
Tak usah sesalkan apa yang sudah

Nimatilah ini, kau di sini, saat ini

Biarkan air mengalir
Dan daun jatuh ke tanah
Yang sudah saatnya mati, lepaskanlah
Yang lahir, sambutlah dengan cinta

Apa yang sudah harus pergi, biarkan terganti
Apa yang tak terganti, biarkan saja

Penuhi hari dengan cinta
Lihatlah sekeliling dengan cinta

Jadilah kebahagiaan
Jadilah cinta

Bersama yang tak terganti
Bersama yang bukan datang dan pergi

Kau buka jendela, udara masuk
Kau biarkan terbuka, udara keluar
Apakah buruk?
Apakah baik?

Yang baik atau buruk, biarkanlah
Yang benar melampaui keduanya

Apakah sakit yang kau rasa?
Apa yang menyakitkan?
Hanya ketidaktahuan membuatnya begitu

Lepaskanlah apa yang kau selalu ingin bersama
Lepaskanlah kebencian apa yang selalu kau harap pergi

Penuhi semua dengan cinta
Jadilah yang tak bersyarat


Teddy Amry
Baca selengkapnya - Biarkan Saja

Minggu, 04 September 2011

Kepalaku Yang Penuh Dengan Debu


Salju tak membersihkan saat air tak ada
Angin membawa sampah masuk ke rumah pemuda
Sendiri menciptakan petaka
Di kegelapan senja melihat tali sebagai naga

Pikiran yang aku cipta sungguh bencana
Dengannya aku menutupi cahaya dengan maya
Keinginan yang aku cipta saat ingin berbeda
Dengan mereka ku mencungkil mata

Sungguh kotor saat aku buta
Berjalan melukai kaki di atas lantai yang penuh pecahan kaca
Saat Buddha menunjukkan arah
Kini terserah kemana aku melangkah


Teddy Amry
Baca selengkapnya - Kepalaku Yang Penuh Dengan Debu

Jumat, 21 Januari 2011

Malam di Jiwa Yang Tenang


Sapuan kuas yang mewarnai lukisan

Menyatakan pikiran dalam gambaran


Suhu yang biasa suasana terasa
Tiada teriakan tiada siksa


Malam seperti malam-malam sebelumnya
Keadaan berbeda karena jiwa
Jiwa yang tenang tiada berduka


Jika takut menghampiri, sambutlah
Dia kan pergi
Jika sedih menghampiri, sambutlah
Dia kan pergi
Jika rindu menghampiri, sambutlah
Dia kan pergi
Jika semua duka itu terasa, rasakanlah
Rasakan sejelasnya, mereka kan pergi


Mereka itu tiada, melainkan ilusi
Maka bukalah pintu untuk udara baru masuk
Mereka kan terganti


Jiwa yang tenang, damai, adakah suka di sana?
Jika suka hanya sementara, adakah yang lebih berharga?


Ketika kau bersihkan jelaga dari kepala
Tiada kata yang dapat melukiskannya
Ketika matamu bersih dari halusinasi
Tiada apa-apa di sana dan di sini


Mengapa menginginkan sesuatu yang telah ada di sini
Bukalah semua penutupnya
Kau akan melihat keindahan itu


Seperti tubuh terlindung hujan
Tak perlu mencari air di bungkusan
Keluarkan tangan, rasakan tetesan


Tiada mengharap tiada menolak
Hanya berpikir maka kau temui


Tiada terikat tipuan
Tiada melekat keinginan


Tiada mengharap tiada menolak
Hanya mengijinkannya, merasakan dan menyambutnya


Hanya membayangkan apa yang dipilih


Hanya memilih, hanya memutuskan
Tiada mengharap tiada menolak
Maka terimalah


Tiada beban, tiada kemelekatan
Tiada duka, tiada siksa


Tiada mengharap tiada menolak
Hanya berpikir dan memutuskan



Tiada beban, tiada kemelekatan
Tiada duka, tiada siksa

Tiada mengharap tiada menolak
Hanya berpikir dan memutuskan
Baca selengkapnya - Malam di Jiwa Yang Tenang

Jumat, 31 Desember 2010

The Sedona Method


Saat pasir kau genggam, saat nafas kau tahan
Jika mengotori tangan mengapa tak kau jatuhkan
Jika membuatmu sesak mengapa tak kau hembuskan

Sia-sialah menghentikan mentari
Bumi yang berputar dan mengelilingi
Sia-sialah berharap waktu kan menunggu
Kaulah yang harus melaju

Biarkan hujan membasahi, biarkan cahaya menerangi
Basah itu tak abadi, apa yang harus kau takuti?

Seperti yang hidup kan mati
Seperti yang hidup beregenerasi
Yang lama kan terganti
Yang baru kan mengisi

Sambut yang kau rasa saat ini
Sambutlah karena itu alami
Ketika waktu telah menghampiri
Jangan tahan, biarkan dia pergi

Seperti aliran udara yang kau hirup
Hembuskan nafasmu kemudian
Sang surya takkan redup
Kau kan nikmati rembulan

Kau haus? minumlah
Kau lapar? makanlah
Mereka tak selamanya di sana
Biarkan semuanya datang lalu tak tahu ke mana

Kita hanyalah seperti rumah dengan pintu dan saluran udara
Kita terima angin dan cahaya masuk
Apakah kita perlu semua? Ya
Apakah semua kan bersama selamanya? Tidak

Maka raihlah saat ini, lepaskan yang lalu
Maka nikmati hari ini, ikhlaskan yang lalu

Bahwa bensin diisi, ia hanya penggerak
Bahwa uang diisi, ia hanya penggerak

Mengapa takut jika harus terjadi?
Mengapa takut jika malam menghampiri?

Hari berakhir, esok mengganti
Seperti air bersikulasi
Semua terjadi alami

Kebersamaan yang memberi senyum
Tak selamanya ada bersama

Pertemuan adalah kebutuhan
Perpisahan adalah alami


Cinta, riang, dan sedih rasakanlah
Akui hingga kau seutuhnya mengalami
Cinta, riang, dan sedih lepaskanlah
Jangan kau tahan, karena itu semua alami


Semua rasa mengalir datang dan pergi
Semua rasa membuatmu hidup
Semua rasa kau perlu di sini
Semua rasa hembuskanlah setelah kau hirup


Tak ada yang menetap di sini
Lepaskan lepaskanlah genggaman emosi
Lepaskan biar tiada duka lagi
Kta adalah kesadaran dan bukan emosi


Semua harus berganti
Laksana embun yang menguap di kala siang


Seperti roda yang berputar agar tergerak pedati
Seperti itu rasa harus bersikulasi


Rasakan seutuhnya
Lepaskan seluruhnya


Amarahmu, dendammu hanya ilusi
Tipuan kebodohan diri


Cintamu, jangan merekat
Bahwa kau bukan sang emosi


Cemburumu, rasakanlah
Akui keberadaanya
Jika sudah, lepaskanlah
Maka kau kan lega


Kebahagianmu, rasakan seutuhnya
Kebahagianmu, lepaskan seluruh rasanya


Jika sedih menangislah
Rasakan seutuhnya
Jika sudah, lepaskanlah
Kau kan lega


Ketakutanmu, rasakanlah
Rasakan seutuhnya
Jika sudah, lepaskanlah
Maka tiada duka


Keinginanmu, rasakanlah
Rasakan seutuhnya
Rasakan agar kau hidup bermegah
Lepaskan rasa, namun wujudkanlah ia


Berserah bukan menyerah
Berserah bukan menyerah


Rasakan, lepaskan, dan bebaslah melangkah
Tiada duka setelahnya
Baca selengkapnya - The Sedona Method

Sabtu, 18 September 2010

Setan Setan Cantik di Kepala

Debur ombak menyiratkan duka, tangis air mata jiwa
Cuih, iblis menggoda merasuk dua mataku
Apakah aku kotor dan dapat kau temui sepanjang jalanan?

Katakan apa yang memerintah pikiran dan hati
Saat aku jauh dan lama tak kau temui
Yakinkah bahwa kau hanya perlu seorang pengganti?

Raja-raja dan menteri bersatu menentang aku
Saat bidadari terkalahkan hantu
Saat matematika tak berkutik melawan rasa
Ke manakah seorang yang bodoh mencari tawa?
Baca selengkapnya - Setan Setan Cantik di Kepala